RSS

KISAH MATAHARI SORE INI ::: based on true story at 07/12/2011:::

08 Des

Aku duduk di jok depan,berdampingan dengan pak driver,yang biasa aku panggil Pak Wor. Dalam perjalanan kami saat kunjungan kerja di branch office (BO) Wonogiri, yang juga menjadi aktifitas kerjaku. Kunjungan BO.
“Sekarang jam berapa mbak?” tanya pak Wor.
Kutengok jam tangan silverku, “ 16.15, Pak”
”Masih keburu sampai BO Klaten sebelum jam 5.” sahut supervisor ku,mas Anton yg duduk dijok belakangku. “Yap” jawabku.

16.19, matahari masih cukup terik. Aku menurunkan shading kaca agar silaunya tak menyakiti mataku. Pak Wor juga melakukannya.
Tiba-tiba aku tersentak, “Pak Wor, itu mataharinya kok ada di selatan?”

Aku tersadar, mobil ini melaju di atas hotmix jalan Solo Jogja, kami menuju BO Klaten. Tentulah kami menghadap arah selatan, tapi kenapa sang matahari ada di depan kami?
“Haha, paling jalan ini agak nikung mbak, gak lurus ke selatan” kata Pak Wor. Aku masih terdiam. Matahari itu tidak hanya di selatan tapi sudah melenceng ke timur. Itu sudah tenggara namanya dan ini aneh jika terjadi di siang bahkan menjelang sore. Kalau pagi, okelah, tapi sekali lagi kukatakan dalam hati, ini sore.
“Ah, memang benar ya, bahwa saat kiamat nanti,matahari jadi berkebalikan, terbit dari barat tenggelam ke timur, iya kan mbak?” imbuh pak Wor. Aku masih diam saja.
“Halah, gk usah dipikirin besok2 bakal terjadi apa, itu kerjaan Tuhan, yang penting masih ada hari esok untuk taubat dan mengurangi dosa, hahaha” timpal mas Anton sambil ngakak.
Hahahaha…..semua jadi ikutan ketawa. Lalu kami kembali pada diri kami. Pak Wor kembali asik dengan musik yang berdentum di dashbord mobil. Si SPV kembali mengutak-atik netbooknya, dan aku kembali pada penyumbat telingaku. Khusuk dengan “lagu kebangsaan” : Linkin Park, melalui ponsel.

Grandmax biru dongker berbranding XL itu berhenti tepat di depan main entrance BO Klaten. Aku turun,naik ke lantai dua,bukan ruanganku yang ku tuju,tapi ckup di ruang meeting ini saja, kuhempaskan tubuhku di kursi di salah satu sudut meja melingkar. Kunyalakan netbook ku. Digital jam menunjukkan 16.40. masih ada cukup waktu untuk koneksi internet,paling tidak mengecek email yang tadi (katanya) adminku mengirim beberapa report saat aku dalam perjalanan.

Benar juga. Ada 3 email report harian. Segera ku unduh. Bersamaan dengan itu, kulihat ada beberapa temanku yang sedang online. Akupun terlibat didalamnya, cukup asyik, hingga tak terasa digital jam tlah berubah angka,17.07.
Saatnya pulang, sebelumnya ku off kan, kutulis update-an status dengan mengumandangkan Lagu wajib, LP = My December.

Aku turun, mengecek mesin absensi. Absensi karyawanku sudah rapi dan baik2 saja, hmmm, mesin ini sudah sehat lagi, pikirku. Ya, pagi tadi seorang Canvasser ku melapor kalau mesin absensi rada ngambek, agak eror, tapi Alhamdulillah sekarang sudhh baikan. Ah, kenapa sih paerusahaan ini masih pakai time recorder, kenapa tak ganti fingerprint saja, lebih modern, sungutku.

Aku keluar dengan melambaikan tangan kepada beberapa karyawanku yang masih lembur. Kunaiki Karisma biruku, menuju jalan Solo Jogja kembali, untuk pulang ke Boyolali.

Hhhh, sudah jam 5 sore lebih, langit begitu cerah, tak ada mendung seperti biasanya. Asyik, mungkin aku bisa menikmati sunset di sepanjang perjalanku nanti, toh semburat kuning jingga mulai ramai di angkasa. Kami, orang jawa, menyebutnya sebagai “Cande Ayu”, ah cantiknya.

Aku mengekor di belakang  sebuah truk pasir, kulihat bayanganku dan kendaraanku seutuhnya dipantulkan di bak truk itu.
“Apa, bayanganku? Kenapa ada di depanku, di truk itu? Buakankah seharusnya ada di samping kananku?”
Kutengok kiri, arah mata angin Barat. Tak ada matahari. Berati benar sang matahari ada di belakang punggungku, ada di selatan. Kulirik spion kiri, dan disana kutemukan kilau jingga matahari. Dia(matahari) ada dibelakangku, ada di selatan, aku tercengang.

Tapi segera kutepiskan mengingat kata pak Wor tadi “ mungkin jalan ini agak menikung”
gak lurus terbentang dari selatan ke utara atau dari utara ke selatan, ah sama saja, Jalan Solo Jogja.
Kata Pak Wor tentang kiamat kembali terngiang, matahari dari barat dan hilang di timur. Pernyataannya  mengenai Kiamat memang tak salah, matahari dari barat pun tak salah, tapi kalau tenggelam di timur itu baru bermasalah, karena dalam hadistnya tak begitu.

Ah kiamat, ah matahari terbit dari barat, aku jadi teringat dengan kisah ustadz ku saat pengajian semalam suntuk. Cerita tentang tanda datangnya kiamat. Ya, Matahari Terbit dari Barat.
Tanda kiamat akan datang adalah dengan terbitnya matahari dari barat.
****
Di setiap malam, sepanjang malam, sang matahari bersujud pada Tuhannya, yaitu Allah Aza wa Jalla. Dia bertanya “ Wahai, Alloh, dimanakah esok hari aku harus terbit, timurkah, baratkah?”
Ketika Alloh menjawab : “Timur”, maka  sang matahari akan beranjak pergi dan terbit di timur. Hal itu dilakukannya setiap malam, ya setiap malam, hingga Alloh berfirman : “Hai matahari, terbitlah kamu dari Barat.” Maka sang syamsu itupun patuh dan terbit dari barat. Dan saat itu, semua pintu taubat akan ditutup. YA, PINTU TAUBAT DITUTUP, dan tak ada lagi taubat akan diterima. Karena saat itu, kiamat akan segara datang, hanya tinggal menghitung waktu. Namun, ketahuilah bahwa kehancuran dunia secara global belumlah datang. Itu batu tanda2.
Sedikit demi sedikit kerusakan mulai melanda, sungai-sungai dibanjiri harta, pajak2 semakin mencekik, adzan2 tak lagi terdengan di telinga, dan Si Mata Satu pun akan keluar dari sarangnya. Mencari pengikut dengan memamerkan surga miliknya yang pada hakikinya itu adalah nerakanya Allah dan memperlihatkan neraka ciptaanya dan yang kebenarannya ialah surga Allah.

Tak bisa kubayangkan jika pintu taubat telah ditutup, bagaimana nasib manusia, semua kejelekan takan ada lagi penghapusnya, semua dosa takkan ada lagi pengleburnya, dan bagaimana nasib ku jika aku menemui keadaan seperti itu. Oh Allah Rabb ku, selamatkanlah aku, jangan sampai aku menjadi umat yg menjumpai kiamat, karena itu sangatlah merugi.
Tak bisa kubayang kan jika si Dajjal perusak dunia akan muncul dengan mempromosikan surganya atau nerakanya, sungguh benar2 itu adalah hal yang sulit (sulit untuk membedakan manakah surga dan neraka yang sebenarnya ataukah hanya ilusi belaka) jika dalam hati tak  ada keimanan sejati.

Matahari itu, dia terbit dari barat, dia meninggi sampai tepat di atas kepala tiap manusia, setelah itu, dia tak lagi melanjutkan perjalannya ke timur dan tenggelam di ufuk timur, tapi matahari kembali bergerak ke barat, dan akan tenggelam di barat. Itulah cerita hadistnya. Dan aku iman, dan aku yakin itu akan terjadi.
***
Kendaraanku telah mencapai kota Delanggu, aku tak sadar telah melamun cukup jauh. Berkendara dengan pikiran jauh di angan, dengan mulut komat-kamit mengucap mantra andalan, dangan mata yang tetap terfokus kedepan, dengan tangan dan kaki yang (harus)tetap lincah mengendarai si kuda besi ini. Ah kebiasaanku, tapi tak apalah, yang penting selamat.

Berbelok ke kiri saat patung Sapi, maskot masyarakat Boyolali, kulihat di pertigaan. Mengarah ke barat, kini menuju ke arah Boyolali. Kutatap pemandangan di depanku, ilustrasi yang dulu sering kugoreskan di atas buku gambarku.

Dua buah gunung kebangganan kami, Gunung Merbabu dan Merapi, dengan berhiaskan matahari yang tercepit di antaranya, matahari yang mengintip. Ya, itu lukisan semasa aku duduk di bangku SD. Dan sekarang yang kulihat nyata. Dua gunung itu, dan dimanakah si matahari, apakah dia masih di selatan dengan melenceng ke timur?

Aha disana, aku lega. Dia, sang matahari bertengger di samping kiri Merapi. Di arah selatan yang melenceng ke barat. Benar kata pak Wor, jalan Solo Jogja memang tak lurus membentang dari selatan ke utara, atau utara ke selatan, hotmix itu menikung.

Matahari kutemui di arah yang masih bisa aku tolerir dengan fikrah ku. Dia berada di selatan melenceng ke Barat bukan timur. Oh mungkin akan lebih baik jika aku katakana matahari (tetap) berada di barat hanya sedikit melenceng ke selatan, atau lebih tepatnya Barat Daya (jadi bukan tenggara ya). Yah, pernyataan ini lebih melegakan.

Kuingat pelajaran IPA ku semasa SMP, bahwa selama satu tahun  terdapat 4x dimana matahari berada pada titik terjauh dari garis equator perlintasannya. Dia (matahari) bisa melenceng ke arah utara ( barat laut dan timur laut) serta menikung ke selatan (tenggara dan barat daya). Yaitu saat tanggal 20 Maret, 21 Juni, 23 September, dan 22 Desember (aku yakin dengan bulannya, tapi untuk angka tanggalnya, aku ragu mungkin itu kebalik-balik,hehe)

Dan mungkin saat ini adalah fase bulan desember itu, tapi…..tapi ini masih awal bulan?
Ah tak usah pusing. Bumi memang sudah tua, dia sudah tak lagi berada pada poros rotasinya dengan sempurna. Semua aktifitas dan rutinitas bumi sudah tak seperti dulu. Tiap Oktober-Maret (Okmar) adalah musim penghujan dan April-September (Asep) adalah musim kemarau. Semua sudah tak lagi berlaku sekarang. Bumi sudah renta, sudah rusak. Mungkin begitupula yang berlaku atas tanggal2 diatas.

Aku tersenyum lega. Upppsss, aku tersadar mulutku telah berhenti dari gerakan reflex rutinnya. Kutatap gunung dan matahari itu, dalam hati ku berharap : “Hai matahari, untuk esok hari,tetaplah kau terbit dari timur dan tenggelam dibarat. Berikanlah sedikit waktu lebih lama bagi kami umat mu’min untuk bisa bertaubat kepada Rabbnya, Amin ya Alloh. Kutunggu kilau pagimu esok hari di depan rumahku.”

Kembali aku fokus pada perjalanku yang masih membutuhkan beberapa puluh menit, mulutku kemballi ku gerakkan, berkomat-kamit dengan mantra andalannya : اسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمِ

********************************************

Jalan Solo-Jogja, at 16:15 – 18.00

 

 

 

 

 

 

 

*Pembaca yang budiman selalu meninggalkan jejak,silakan…….*

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 8, 2011 in Lobbi Ruang Berbagi

 

Tag: , ,

One response to “KISAH MATAHARI SORE INI ::: based on true story at 07/12/2011:::

  1. Opick

    September 4, 2012 at 12:31 pm

    Nice story… i like that…🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: